Hidayah

“Cerita ini bukan untuk menghina atau menyindir atau menjelekkan produk atau perusahaan tertentu. Tetapi cerita ini murni untuk motivasi dan inspirasi mengajak kepada kebaikan, mengajak untuk mejauhi riba.”

Siang itu di Yogyakarta, aku dan teman pergi menuju tempat tes PLN. Pada waktu itu adalah tes tahap ke-2, yaitu TAP, tes adapatif PLN. Bukan soal TAP yang akan aku bahas tapi pada saat perjalanan menuju lokasi tersebut yang akan jadi pembahasan. Aku dan teman naik angkutan transportasi online. Karena kami naik mobil, aku duduk di depan sedangkan temanku di debalakang. Aku berpikir daripada di dalam mobil sepi lebih baik aku memulai pembicaraan dengan Pak Supirnya.

A : “Pak asli mana?

S: “Oh, saya asli bangka. Tapi sekarang tinggal di yogya. Adik-adik ini asli mana?” Balas pak supir.

A: “Saya asli Bogor, Pak.”

T: “Kalo saya dari Tangerang, Pak.”

S: “Di yogya liburan, ya?” Tanya Pak supir.

A: “Gak, Pak. Kami mau tes kerja. Tes PLN.”

S: “Oh iya, bagus itu PLN, dik. Semoga lancar ya.”

A, T: “Iya, pak. Aamiin.”

S: “Jangan sampai cari uang riba, dik. Jangan, dik. Saya sebelum kerja jadi supir, saya kerja di Finance motor merk terkenal di Indonesia. Itu saya sering, dik, diajak entertaint istilahnya gitu ya. Diajak jalan-jalan pakai uang orang-orang yang DP motor mobil itu. Ke spa, makan, karaoke. Sambil minum di temani sama cewe-cewe sana. Tapi saya gak sampe ikut-ikutan gitu. Pokoknya seringlah waktu masih kerja di sana saya ikut entertaint di ajak sama atasan.”

A: “Pak, kok bisa ya riba memang bagaimana sebenarnya?” Saya berencana korek lebih dalam.

S : “Jadi begini ya, adik jangan beritahu siapa-siapa. Saya cerita sedikit sajalah. Jadi begini, kenapa bisa riba itu karena sebenarnya uang DP yang dari orang-orang beli motor itu diputar lagi, jadi ada biaya lain yang tidak diberitahukan kepada si pembeli. Misal DP 3 juta, dipotong biaya administrasi sekian, biaya lain-lain sekian (penulis lupa apa saja dan tidak mengerti bahasanya), jadi bisa jadi untuk DP itu kurang dari 3 juta itu. Tapi orang perusahaan ini tidak menyampaikan hal tersebut kepada pembeli. Bukankah mengambil uang orang tanpa memberitahukannya sama dengan pencuri itu?”

A : “Iya sih, Pak.” Saya menjawab.

S : “Jadi seperti itulah. Alhamdulillah saya sudah keluar dari sana. Saya gak mau nanti di akhirat saya disiksa. Perut saya membesar, tidak bisa berdiri. Ketika bangun jatuh lagi, jatuh lagi, begitu terus, tidak bisa berdiri.”

S : “Dulu, ini saya diceritain sama teman saya, atasan saya itu orangnya hebat. Bisa dibilang ahlinya dia mencari uang, memetakan uang itu (riba) ahlinya. Adik tahu apa yang terjadi?”

A : “Bagaimana tuh, Pak?”

S : “Dia sakit. Ketika sakit itu perutnya membesar. Dia terbaring di rumah sakit sudah lama. Saya ditunjukin fotony oleh teman saya. teman saya bilang, ini atasanmu waktu kau masih kerja di sana. Sekarang dia sedang sakit.”

S : “Dik, kemudian orang itu, atasan saya itu meninggal dalam sakitnya itu, perutnya masih besar. Ngeri saya, dik. Untung saja saya masih dikasih hidayah oleh Allah untuk keluar dari pekerjaan seperti itu. Begitulah, dik. Adik jangan kasih tahu siapa-siapa soal sistem tadi dan segala macamnya. Pokoknya jangan sampe adik-adik ini kerja di tempat seperti itulah.” Pak supir memberi saran.

Kemudian kami pun sampai di tempat tujuan dan cerita pun terpaksa diselesaikan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s