Matahari Kepada Hujan

Tanpamu, usahaku sia-sia. Aku yang membawa ketegasan, kamu yang membawa kesejukan. Tanpamu, aku hanya akan jadi cemoohan. Meski kering itu jemuran, tapi orang-orang beralasan kepanasan. Mereka kehausan. Tanpamu, aku bukan apa-apa. Meski kita berbeda, tapi kita saling melengkapi. Bila kita saling melengkapi, sesuatu yang lebih indah akan datang. Pelangi. Meski awalnya kelabu, tapi akan kembali menjadi biru. Memang sekarang adalah giliranku. Tapi aku akan tetap menunggu kehadiranmu. Meski kadang, kau datang di saat yang tak terduga. Apakah itu hanya hawamu? Datang dari tempat yang jauh. Mungkin disitu doaku terkabul, ingin merasakan hawamu meski hanya sebentar. Meski hanya sementara. Setidaknya untuk mengobati rindu. Bagaimana denganmu di sana? Di tempatmu yang jauh entah di mana. Apakah kamu merasakan hal yang sama? Kita di dalam bumi yang sama, objek yang sama. Tapi apakah kita berada di paralel yang sama?

24/05/2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s