Malam Mengundang Hujan

Malam ini hujan turun. Anugerah dan keberkahan diberikan Tuhan. Setiap rintik yang menghujam bumi menemaniku. Juga lagu dari sheila on 7-Alasanku. Terdengar lirik ‘Tak terbayangkan jika kau pergi’. Ya. Seperti yang aku tak bisa  bayangkan jika kamu sudah bersama yang lain. Bersama seseorang yang lebih dahulu berani berbicara “Aku suka kamu. Maukah kamu menikah denganku? Apa boleh aku berbicara dengan Ayahmu? Kapan kira-kira bisa bertemu?” Itu.

Tak terasa sudah tahun ketiga aku mengejarmu. Mungkin kamu tidak tahu itu. Seperti film ‘You are the apple of my eye’, kamu wanita yang kukejar sekian lama, lalu putus berhubungan karena sikapku yang kekanak-kanakan. Kemudian beberapa tahun kemudian aku mendengar kabar dari teman yang lain kalau kamu akan menikah. Kalau versi filmnya kamu yang mengabari aku langsung pertama kali. Begitulah.

Aku tak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika bukan kamu lagi yang aku kejar. Aku sedang melakukan apa dan mimpi apalagi yang bisa kukejar nanti. Aku menyukai diriku saat aku mengejarmu. Aku tak ingin kalah darimu. Dari setiap langkah yang telah kamu buat, setiap momen yang kamu abadikan. Membuatku terus termotivasi untuk menjadi yang terbaik untukmu kelak. Sebab itu aku jadi lebih banyak mengintaimu melalui dunia maya, melalui tulisan-tulisan yang kamu buat di blog. Aku menjadi stalker.

Suara hujan di luar sedikit lebih tenang. Terbawa lebih dalam oleh setiap tetes air yang hujan pikiran ini mengenang. Mengingat-ingat kembali betapa bodohnya aku, rancunya sikapku ketika mengejarmu, berhadapan denganmu. Memang tidak begitu jauh berbeda dengan sikap-sikapku biasanya. Bagiku kamu adalah wanita satu-satunya. Tak bisa kamu digantikan dengan yang lainnya. Apakah kamu diciptakan untuk melengkapi tulang rusukku? Tak pernah menyesal aku sempat mengejarmu. Sampai sekarang. Aku masih menantimu. Namun mungkin di dimensi yang lain. Dimensi dimana kita berdua saling  menguatkan, saling mengingatkan, bahwa kita ini bukan siapa-siapa. Dunia bukan milik kita bila kita berdua seperti yang dikatakan orang-orang bila sedang jatuh cinta. Cinta kita saling terhubung, tapi berbentuk segitiga, bahkan segi empat. Tuhan, keluarga kita, aku, dan kamu.

Hujan terdengar semakin deras. Terasa sakit bila terkena kulit. Seperti hati ini yang pernah sakit. Harapan tinggiku yang langsung turun menghujam. Ketika menaruhmu menjadi motivasi. Menaruhmu di atas segala-galanya laksana bintang-bintang di angkasa. Lalu kabar itu pun terdengar, bahkan langsung terlihat oleh mataku sendiri. Karena keisenganku, karena keingitahuanku yang mendalam tentang pencapaianmu. Aku merasa kamu tak terkejar lagi. Kamu sudah jauh di depanku. Hanya bayanganmu yang tersisa. Dan itupun tak bisa lagi ku rasakan.

Aku telah salah menaruhmu di atas. Seharusnya aku yang memiliki Tuhan membuat-Nya berada di dalam hatiku sepenuhnya dan di atas segalanya. Karena Dialah pemilik jiwa dan raga setiap insan. Pemilik hati bersama setiap rasa yang berada di dalamnya. Raja dari segala raja. Penggenggam mimpi dan harapan makhluk-makhluk-Nya.

01/05/2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s