Menata Hati

Kamu itu selalu membuatku kagum. Bagaimana bisa? Apa motivasimu? Ketika kamu masih berada dalam hati ini seutuhnya, aku sangat berbeda. Dalam artian aku selalu ingin mengejar kamu, menjadi yang terdepan dalam berbagai hal. Itu bagus awalnya, tapi sampai suatu ketika di hari aku menemukan kalimat itu. Pada awalnya tidak begitu terasa sakit karena seperti hilang harapan mengejarmu. Rasa hampa karena benar-benar tertinggal jauh darimu. Aku jatuh.

Kemudian hari Jumatnya aku memutuskan untuk kembali ke kota asalku di Bogor. Menata hati ini lagi. Memulai lagi dari nol.

“Mah, abang boleh pulang gak hari ini?”

“Emang kenapa? Abang kenapa di sana?” Ibuku khawatir.

“Gak ada apa-apa. Abang Cuma pingin pulang aja.”

“Ya udah terserah abang aja.”

“Ya udah.”

Malamnya aku langsung pulang ke Bogor. Kepulanganku itu menjadi pertanyaan teman-teman satu kontrakan. Ada apa? Kenapa? Tentu saja, aku tak menjawabnya.

Sabtu pagi. Aku sampai di Bogor. Ketika sampai di rumah, setelah beberapa menit, aku langsung cerita kepada Ibuku.

“Mah, begini, abang kan suka dengan dia. Waktu itu abang iseng-iseng ngetik nama dia di google. Keluar tuh tulisan kalau dia itu mahasiswa berprestasi di FEM. Terus abang copy gambarnya, abang kasih dia lewat line. Awalnya gak apa, tapi rasanya sakit gitu. Gak bisa nyaingin dia.”

“abang kenapa mesti bersaing?”

“Soalnya abang suka sama dia dan abang pingin melebihi dia, setidaknya setaralah. Abang juga jadikan dia sebagai motivasi abang gitu, Mah.”

“Gak bisa gitu dong abang, setiap orang kan punya jalannya masing-masing, punya rezekinya masing-masing. Abang gak bisa begitu karena abang juga punya jalan sendiri. Mungkin dia begitu karena emang rezeki dia di situ.” Ibuku menasihati.

“Abang, setiap orang punya jalannya sendiri. Mungkin dia begitu karena dia pintar, punya amal baik. Sehingga dia bisa mencapai itu. Abang ingin jadi orang yang pintar tapi tidak mendapatkan apa-apa atau menjadi orang yang selalu beruntung?”

“Orang yang beruntung.”

“Nah, Bagaimana untuk menjadi orang yang beruntung itu? Yaitu dengan banyak beramal soleh, orang pintar itu kalah dengan orang yang beruntung. Seperti Mamah nih…..blablalbla.” Ibuku bercerita anjang lebar mengenai dirinya tentang keberuntungan.

Lalu pada saat itu aku sadar. Hatiku menjadi tenang kembali. Aku sadar selama ini aku salah. Salah karena menaruhnya di atas segalanya, menaruh dirinya menjadi motivasi hidupku. Aku salah, karena bukan Tuhanku yang menjadi motivasi hidupku, bukan janji-Nya membuat aku berjalan di dunia ini. Aku sadar. Aku memutuskan untuk kembali lagi dari nol dengan motivasiku adalah Tuhanku. Meskipun awalnya masih terseok-seok aku melangkah karena banyaknya godaan dan rintangan. Tapi aku tak ingin menyerah dari rahmat-Nya. Dari janji-Nya.

Aku bertaubat. Doakan aku agar selalu istiqomah dalam jalan pertaubatan ini. Agar aku bisa menjadi pribadi yang memesona, pribadi yang hebat, pribadi yang menjunjung tinggi kebenaran.

27/04/2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s