Keputusan

Oleh: Ibnu Fajar

Mungkin kamu tidak tahu kalau aku, di setiap jenuhku, di setiap rindunya aku, dapat dipastikan sedang berada di depan laptop atau telepon genggamku dan menatap fotomu yang berada di facebook atau whatsapp. Dengan menatapmu aku jadi tahu kalau kamu baik-baik saja di sana. Di Bogor. Terkadang kamu mengunggah kegiatanmu melalui foto dan aku melihatnya. Hanya dengan itu saja aku bisa manahan rindu yang ingin menjelma menjadi tekad, bahkan nekat. Terkadang pula aku mengawasimu melalui tulisan-tulisanmu di blog. Kamu sungguh berbakat. Bahkan kadang aku suka cemburu dengan orang-orang terutama laki-laki yang bebas berkomentar di facebook ataupun di blogmu, lalu kau tanggapi. Aku adalah pecundang yang hanya bisa menatapmu dari jauh dan mendoakanmu. Berdoa dan berharap bahwa aku dan kamu adalah sepasang kekasih yang sedang diuji dengan kesendirian, kesepian, serta jarak lalu aku dan kamu bersatu pada waktunya. Kita saling bercerita tentang pengalaman masing-masing.

Tapi…

Aku harus bagaimana? Aku harus melakukan apa lagi?

Sesekali aku kontak denganmu melalui whatsapp. Aku hanya ingin tahu kabarmu saja dan mencoba melakukan pembicaraan lebih jauh, tapi tidak semudah yang terbayangkan. Dan akhirnya hanya sebatas kabar pun aku terima demi mengobati rasa rindu. Aku mungkin telah melakukan kesalahan. Caraku salah dalam mendekatimu. Membuatmu selalu ada dalam hati ini tapi tetap tidak mengekang kehidupanmu. Lalu di suatu malam, keadaanku pun tidak begitu baik. Aku membuka line dan tiba-tiba kamu update. Aku melihat fotomu, sepertinya baru. Lalu aku buka, dan ternyata kamu habis memenangkan sesuatu. Aku buka facebook dan ternyata banar. Di satu sisi aku sungguh bangga kepadamu, aku tidak salah dalam memilih wanita. Di sisi lain aku sedih. Karena aku hanya di sini saja, tidak pernah bergerak, tidak pernah naik ke atas panggung menerima penghargaan apapun. Aku sedih, aku takut. Aku sedih karena aku tak bisa mengejarmu, dan aku takut aku benar-benar kehilanganmu. Bila kenyataan nanti bahwa aku harus melihatmu dengan yang lain, aku rasa tak mampu. Aku bukan tipe orang yang dengan mudah pindah ke lain hati begitu saja. Apalagi yang sedang aku taksir adalah wanita yang hebat ini, kamu. Tapi, aku harus mengambil sikap. Aku tak ingin selalu dilanda rasa haru. Ketika tiba-tiba kamu melewati pikiranku aku tak ingin selamanya sedih. Aku berkeyakinan bahwa saatnyalah untuk aku tidak menghubungimu lagi untuk sementara waktu. Membuka hati ini untuk dunia yang lebih baru. Tapi aku tetap mengawasimu. Karena di satu sisi kamu tetap motivasiku, impianku, idamanku, dan harapanku. Seperti dirimu yang mungkin telah menemukan passion, aku juga sedang mencarinya. Meski sulit, aku harus bisa. Bisa menghadapi kenyataan bahwa kamu sedang di tempat lain, bersama orang lain, bersama mimpimu untuk menikah dengan yang lebih baik, dan aku tahu impianmu itu bukan aku. Aku harus bisa menghadapi kenyataan jika nanti kamu pada akhirnya bersanding dengan yang lain, lalu aku hanya bisa menjadi saksi untukmu dan calon suamimu. Lalu aku harus tersenyum palsu dihadapmu dan suamimu saat sedang bersalaman, dan pergi. Menghilang. Tak ada kabar. Aku hampa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s