Pergi untuk Kembali

Oleh: Ibnu Fajar

Selamat pagi. Bagaimana kabarnya? Sudah lama kita tidak bicara, meski hanya lewat sms atau what’s app. Di sini terlihat cerah. Bagaimana di Bogor? Apa di sana mendung? Kamu sehat? Tetap semangat, ya. Kemarin siang aku ke kampus. Aku internetan. Modem lagi rusak, mungkin sudah sekitar satu bulan tidak kupakai. Maka dari itu aku jarang melihat kabarmu. Aku tidak berani bertemu kamu langsung, sejak dahulu. Sudah lupakan saja.

Kemarin, waktu sedang browsing, aku iseng nulis nama kamu di mesin pencari. Kamu tahu apa yang aku temukan? Iya, aku menemukan namamu. Kamu ada di dalam mesin pencari. Di sana ada banyak nama yang hampir mirip bahkan sama denganmu dan ikut keluar. Lalu di sana ada tulisan dari FEM IPB. Tempat kamu kuliah. Iya. Terus aku klik dan ternyata aku menemukan berita selamat dari FEM IPB untuk kamu tertanggal 11 Maret 2015. Sudah hampir  satu bulan. Mengapa kamu tidak pernah cerita? Aku tahu kita tidak bertemu lagi atau what’s app-an saling cerita pencapaian-pencapaian kita. Aku tahu. Tapi ini bukan hal yang ingin aku bicarakan. Bukan tentang mengapa aku jarang menghubungi kamu. Kita lupakan ya. Aku ingin mengucapkan selamat kepada kamu. Ternyata kamu selalu membuat aku terkejut, meski kamu tidak pernah tahu itu. Karena aku mengejarmu sudah lama, sekitar dua tahun, ini sudah masuk tahun ketiga. Kamu itu motivasi aku. Jadi aku harus bisa menyaingi kamu. Meski itu sedikit sulit. Tidak, tidak, tak ada yang sulit di dunia ini kalau ada kemauan, kan? Sekali lagi selamat, ya. Aku memang tepat mengejarmu. Setelah melihat berita itu, aku langsung menggunakan snipping tool lalu aku simpan. Kemudian aku kirim kepada kamu melalui aplikasi Line.

Tapi kamu tahu? Aku di sini menjadi sedih. Aku menjadi ragu dengan diriku. Apakah aku bisa dapatkan kamu? Kita ini bagaikan langit dan bumi. Aku buminya, kamu langitnya. Meskipun nanti kita saling berhadapan, kamu tetap langit dan aku bumi. Apa aku bisa meminangmu sebelum orang lain yang lebih hebat dan mapan dari aku datang melamarmu? Tidak, aku berusaha meyakinkan diriku pasti bisa sejajar dan mendapatkan kamu. Apalagi yang aku punya selain keyakinan ini? Aku juga tetap berusaha menjalani hidupku dengan penuh semangat mengejar mimpi yang lebih besar lagi, lebih tinggi lagi. Terima kasih, karena sampai sejauh ini tanpa kamu sadari kamu sudah menjadi motivatorku.

Lalu aku buka blog-mu dan di sana sudah ada tulisan terbaru. Isinya itu tentang yakin pada Tuhan meski kita sedang dan sudah tidak yakin pada diri sendiri. Percaya pada kebaikan takdir Tuhan meski kita ragu pada diri kita sendiri. Tuhan tidak pernah ragu terhadapmu dari awal. Kamu itu selalu membuatku kagum. Bagaimana bisa? Apa motivasimu? Ketika kamu masih berada dalam hati ini seutuhnya, aku sangat berbeda. Dalam arti aku selalu ingin mengejar kamu, menjadi yang terdepan dalam berbagai hal. Itu bagus awalnya, tapi sampai suatu ketika di hari aku menemukan kalimat ‘Congratulations to You as the outstanding student of FEM IPB 2015‘. Pada awalnya tidak begitu terasa rasa sakit karena seperti hilang harapan mengejarmu. Rasa hampa karena benar-benar tertinggal jauh darimu. Aku jatuh.

Kemudian hari Jumat aku memutuskan untuk kembali ke kota asalku di Bogor. Menata hati ini lagi. Memulai lagi dari nol.

“Mah, abang boleh pulang tidak hari ini?”

“Memang kenapa? Abang mengapa di sana?” Ibuku khawatir.

“Tidak ada apa-apa. Abang cuma ingin pulang saja.”

“Ya sudah terserah abang saja.”

“Ya.”

Malamnya aku langsung pulang ke Bogor. Kepulanganku itu menjadi pertanyaan teman-teman satu kontrakan. Ada apa? Mengapa? Tentu saja, aku tak menjawabnya. Sabtu pagi aku sampai di Bogor. Ketika sampai di rumah, setelah beberapa menit, aku langsung cerita kepada Ibuku.

“Mah, begini, abang kan suka dengan Kirana (nama disamarkan). Waktu itu abang iseng mengetik nama dia di google. Keluar tulisan kalau dia itu mahasiswa berprestasi di FEM. Kemudian abang copy gambarnya, abang berikan kepada dia lewat line. Awalnya tidak apa, tapi setelah itu rasanya sakit begitu. Tidak bisa menyaingi dia.”

“Abang kenapa mesti bersaing?”

“Soalnya abang suka sama Kirana dan abang kepingin melebihi dia, setidaknya setara. Abang juga jadikan dia sebagai motivasi abang gitu, Mah.”

“Tidak bisa begitu dong abang, setiap orang punya jalannya masing-masing, punya rezekinya masing-masing. Abang tidak bisa begitu karena abang juga punya jalannya sendiri. Mungkin dia begitu karena memang rezeki dia di situ.” Ibuku menasihati.

“Abang, setiap orang punya jalannya sendiri. Mungkin dia begitu karena dia pintar, punya amal baik. Sehingga dia bisa mencapai itu. Abang ingin jadi orang yang pintar tapi tidak mendapatkan apa-apa atau menjadi orang yang selalu beruntung?”

“Orang yang beruntung.”

“Nah, Bagaimana untuk menjadi orang yang beruntung itu? Yaitu dengan banyak beramal soleh, orang pintar itu kalah dengan orang yang beruntung. Seperti Mamah nih…..blablalbla.” Ibuku bercerita panjang lebar mengenai dirinya tentang keberuntungan.

Tanpamu, usahaku terasa sia-sia. Aku yang membawa ketegasan, kamu yang membawa kesejukan. Tanpamu, aku hanya akan menjadi cemoohan. Meski kering itu jemuran, tapi orang-orang beralasan kepanasan. Mereka kehausan. Tanpamu, aku bukan apa-apa. Meski kita berbeda, tapi kita saling melengkapi. Bila kita saling melengkapi, sesuatu yang lebih indah akan datang. Pelangi. Meski awalnya kelabu, tapi akan kembali menjadi biru. Memang sekarang adalah giliranku. Tapi aku akan tetap menunggu kehadiranmu. Meski kadang, kau datang di saat yang tak terduga. Apakah itu hanya hawamu? Datang dari tempat yang jauh. Mungkin di situ doaku terkabul, ingin merasakan hawamu meski hanya sekejap. Meski hanya sementara. Setidaknya untuk mengobati rindu. Bagaimana denganmu di sana? Di tempatmu yang jauh entah di mana. Apakah kamu merasakan hal yang sama? Kita di dalam bumi yang sama, di bawah langit yang sama. Tapi apakah kita berada di paralel yang sama?

Lalu pada saat itu aku sadar. Hatiku menjadi tenang kembali. Aku sadar selama ini aku salah. Salah karena menaruh Kirana di atas segalanya, menaruhnya menjadi motivasi hidupku. Aku salah, karena bukan Tuhanku yang menjadi motivasi hidupku, bukan janji-Nya yang membuat aku berjalan di dunia ini. Aku sadar. Aku memutuskan untuk kembali lagi dari nol dengan motivasiku adalah Tuhanku. Meskipun awalnya masih terseok aku melangkah karena banyaknya godaan dan rintangan. Tapi aku tak ingin menyerah dari rahmat-Nya. Dari janji-Nya. Aku bertaubat. Doakan aku agar selalu berjalan dalam jalan pertaubatan ini. Agar aku bisa menjadi pribadi yang mempesona, pribadi yang hebat, pribadi yang menjunjung tinggi kesalehan dan kebaikan Islam.

Malam ini hujan turun. Anugerah dan keberkahan diberikan Tuhan. Setiap rintik yang menghujam bumi menemaniku. Juga lagu dari sheila on 7-Alasanku. Terdengar lirik ‘Tak terbayangkan jika kau pergi’. Ya. Seperti yang aku tak bisa  bayangkan jika kamu sudah bersama yang lain. Bersama seseorang yang lebih dahulu berani berbicara “Aku suka kamu. Maukah kamu menikah denganku? Apa boleh aku berbicara dengan Ayahmu? Kapan kira-kira bisa bertemu?” Itu.

Tak terasa sudah tahun ketiga aku mengejarmu. Mungkin kamu tidak tahu itu. Seperti film ‘You are the apple of my eye’, kamu wanita yang kukejar sekian lama, lalu putus berhubungan karena sikapku yang kekanak-kanakan. Kemudian beberapa tahun kemudian aku mendengar kabar dari teman kalau kamu akan menikah. Aku tak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika bukan kamu lagi yang aku kejar. Aku sedang melakukan apa dan mimpi apalagi yang bisa kukejar nanti. Aku menyukai diriku saat aku mengejarmu. Aku tak ingin kalah darimu. Dari setiap langkah yang telah kamu buat, setiap hal yang kamu abadikan. Membuatku terus termotivasi untuk menjadi yang terbaik untukmu kelak. Sebab itu aku jadi lebih banyak mengintaimu melalui dunia maya, melalui tulisan-tulisan yang kamu buat di blog. Aku menjadi pengintai.

Suara hujan di luar sedikit lebih tenang. Terbawa lebih dalam oleh setiap tetes air hujan pikiran ini mengenang. Mengingat kembali betapa bodohnya aku, rancunya sikapku ketika mengejarmu, berhadapan denganmu. Memang tidak begitu jauh berbeda dengan sikap-sikapku biasanya. Bagiku kamu adalah wanita satu-satunya. Tak bisa kamu digantikan dengan yang lainnya. Apakah kamu diciptakan untuk melengkapi tulang rusukku? Tak pernah menyesal aku sempat mengejarmu. Sampai sekarang. Aku masih menantimu. Namun mungkin di dimensi yang lain. Dimensi dimana kita berdua saling  menguatkan, saling mengingatkan, bahwa kita ini bukan siapa-siapa. Dunia bukan milik kita bila kita berdua seperti yang dikatakan orang-orang bila sedang jatuh cinta. Cinta kita saling terhubung, tapi berbentuk segitiga, bahkan segi empat. Tuhan, keluarga kita, aku, dan kamu. Hujan terdengar semakin deras. Terasa sakit bila terkena kulit. Seperti hati ini yang pernah sakit. Harapan tinggiku yang langsung jatuh menghujam. Ketika menaruhmu menjadi motivasi. Menaruhmu di atas segala-galanya laksana bintang-bintang di angkasa. Lalu kabar itu pun terdengar, bahkan langsung terlihat oleh mataku sendiri. Karena keisenganku, karena keingitahuanku yang mendalam tentang pencapaianmu. Aku merasa kamu tak terkejar lagi. Kamu sudah jauh di depanku. Hanya bayangmu yang tersisa. Dan itupun tak bisa lagi ku rasakan. Aku telah salah menaruhmu di atas. Seharusnya aku yang memiliki Tuhan membuat-Nya berada di dalam hatiku sepenuhnya dan di atas segalanya. Karena Dialah pemilik jiwa dan raga setiap insan. Pemilik hati bersama setiap rasa yang berada di dalamnya. Raja dari segala raja. Penggenggam mimpi dan harapan makhluk-makhluk-Nya.

Terima kasihku untukmu yang sampai hingga kini masih menungguku. Terima kasihku untukmu yang sampai hingga kini masih merindukanku. Merindukan kesejukan yang akan aku berikan seutuhnya. Menantikan kehangatan yang akan terjadi, yang akan muncul ketika kita bersatu. Ketika matahari dan hujan beradu. Aku tak menyangka dengan sabarnya kamu menungguku. Akan tetapi aku tidak pernah memikirkan kamu. Merindumu saja bahkan tidak. Meski kita berada di paralel yang sama, aku yakin, posisi kita sudah berbeda. Tempat kita sudah berbeda. Mungkin kamu yang nantinya akan menggandeng pelangi. Tapi bisa jadi aku yang akan menggandeng pelangi. Atau bahkan kita tidak menggandeng siapapun. Mungkin juga kamu akan menggandeng bulan dan aku akan menggandeng awan. Siapa tahu. Tapi tetap saja, terima kasihku untukmu yang sempat merindukanku, kita yang sempat bercengkerama, kita yang sempat berada di kelas yang sama, juga kamu yang sempat menantikanku, dan bahkan hingga kini. Terima kasih.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s